Wisata Suku Korowai Papua Bikin Viral Amerika Serikat

Wisata Suku Korowai Papua Bikin Viral Amerika Serikat

Suku Korowai di Boven Digoel, Papua, pernah jadi pembahasan yang cukup panas di Kongres Amerika Serikat. Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menyatakan pembahasan di Kongres Amerika Serikat itu bermula berasal dari sebuah film dokumenter berjudul Lords of the Garden yang diproduksi terhadap Juli 1994.

Mengutip laman iMDb, film Lords of the Garden menceritakan bagaimana Antropolog Smithsonian Institution, Paul Michael Taylor kala mendokumentasikan kehidupan masyarakat Suku Korowai di Papua. Sutradara film dokumenter ini adalah Reuben Aaronson dan Judith Dwan Hallet.

Film dokumenter ini melukiskan Suku Korowai yang hidup di hutan, tinggal di tempat tinggal pohon, dan konon memiliki sistem hukum kanibalisme sebagai bentuk hukuman bagi pelanggar peraturan adat. “Kebenaran perihal kanibalisme di jaman selanjutnya memang tidak disangkal, tetapi perhatian yang terlalu berlebih terhadap kanibalisme Suku Korowai telah dimanfaatkan oleh sejumlah agen perjalanan wisata,” kata Hari Suroto kepada Tempo, Rabu 18 November 2020.

Dengan persepsi yang keliru, agen perjalanan wisata itu mengenalkan atau mempromosikan Suku Korowai di Papua sebagai grup masyarakat yang tinggal di pohon dan memprakikkan kanibalisme. “Perhatian yang terlalu berlebih perihal kanibalisme Suku Korowai menghebohkan kongres Amerika Serikat terhadap jaman itu,” katanya.

Congressional Black Caucus atau grup legislator beranggotakan keturunan Afro-Amerika tidak bisa menerima tudingan masih ada praktek kanibalisme. Kritik keras berasal dari anggota kongres Amerika Serikat melahirkan anjuran supaya film Lords of the Garden direvisi total.

Laman Washington Post edisi 5 Februari 1994 berjudul, ‘An Unpalatable Topic?’ menuliskan laporan perihal Kongres Amerika Serikat keberatan bersama dengan rencana pemutaran film dokumenter berjudul Lords of the Garden ini. Antropolog Paul Michael Taylor yang terhitung jadi bintang utama didalam film dokumenter itu menyatakan ada persepsi yang tidak benar didalam paham film tersebut.

Baca:
Mengenal Suku Korowai Papua, Tinggal di Pohon dan Gigi Anjing yang Berharga

Menurut Paul Michael Taylor, kanibalisme bukanlah cerita utama didalam film dokumenter perihal Suku Korowai. “Kami cuma beri tambahan gambaran menyeluruh perihal Suku Korowai di Irian Jaya,” ucap Paul Michael Taylor yang merupakan antrolopog Museum of Natural History Washington. “Dan semua ini adalah fakta.”

Sutradara yang terhitung produser film Lords of the Garden, Judy Dwan Hallet menyatakan praktek kanibalisme di Suku Korowai adalah cerita jaman lalu. Hukuman itu dijatuhkan kepada anggota suku yang melanggar peraturan adat, di antaranya membunuh, mengambil istri orang lain, atau mengakibatkan kerusakan sistem pertahanan makanan mereka. Termasuk bagaimana Suku Korowai tinggal di tempat tinggal pohon setinggi 60 kaki atau lebih kurang 18 mtr. berasal dari permukaan tanah.

“Dalam film dokumenter ini, kita menyaksikan kebudayaan mereka secara menyeluruh,” kata Judy Dwan Hallet. “Mereka tidak idamkan dikenal sebagai kanibal, serupa layaknya kita terhitung tidak idamkan dikenal sebagai orang yang sepakat bersama dengan hukuman mati.”

Mengenai kanibalisme Suku Korowai, Hari Suroto yang terhitung dosen arkeologi Universitas Cenderawasih menjelaskan, mereka telah tidak lagi mempraktikkan hukuman itu. “Sebenarnya bukti perihal hukuman kanibalisme itu cuma bersifat ingatan kolektif yang diceritakan berasal dari generasi ke generasi atau kisah turun-temurun,” ucap dia.

Menurut cerita masyarakat Suku Korowai, hukuman kanibalisme merupakan respons mereka terhadap sihir. Perlu diketahui, Hari Suroto melanjutkan, masyarakat Suku Korowai memiliki musuh bersama dengan bernama laleo atau iblis yang kejam.

“Mereka menyatakan laleo ini makhluk yang berlangsung layaknya mayat hidup, berkeliaran terutama terhadap malam hari untuk mencari manusia,” kata Hari Suroto. “Inilah yang jadi tidak benar satu alasan Suku Korowai membangun hunian yang tinggi di pohon.”

Menurut kisah turun-temurun, kata Hari Suroto, anggota Suku Korowai yang bersekutu bersama dengan Lalelo dapat dibunuh dan dagingnya boleh dimakan. “Laleo adalah iblis atau zombi yang hidup di dunia serupa manusia, tetapi semua isinya bertentangan bersama dengan yang ada terhadap manusia. Setan-setan menyaksikan malam sebagai siang hari,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *